Menlu Rusia: Barat Sudah Nyatakan Perang Total dengan Kami

Kabar Perang Rusia – Ukraina Terkini

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Jumat (27/5/2022) menuduh negara-negara Barat melancarkan perang total terhadap Rusia, rakyatnya, serta budayanya.

“Barat telah menyatakan perang terhadap kami, secara keseluruhan, dunia Rusia. Budaya mengucilkan Rusia dan segala sesuatu yang berhubungan dengan negara kami sudah mencapai titik absurditas,” kata Lavrov pada pertemuan kementerian dikutip dari AFP. Dia menuduh Barat sampai melarang penulis, komposer, dan tokoh budaya Rusia lainnya.

“Bisa dikatakan bahwa situasi ini akan kami rasakan untuk waktu yang lama,” tambahnya. Menurut Lavrov, Washington “dan satelitnya menggandakan, tiga kali lipat, empat kali lipat upaya mereka untuk menahan negara kami”.

Lavrov juga mengatakan, Barat “menggunakan berbagai alat–dari sanksi ekonomi sepihak hingga propaganda palsu sepenuhnya di ruang media global”.

“Di banyak negara Barat, Russophobia sehari-hari telah menjadi sifat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan, yang sangat kami sesalkan, didorong oleh kalangan pemerintah di sejumlah negara,” ujar Lavrov.

Negara-negara Barat menjatuhkan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Rusia setelah Presiden Vladimir Putin mengerahkan pasukan ke Ukraina pada 24 Februari.

Rusia-Ukraina Damai? Putin Mau Bertemu Zelensky

Rusia-Ukraina Damai? Putin Mau Bertemu Zelensky

Pemerintah Rusia membuka harapan adanya pertemuan antara Presiden Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ini diyakini bisa membawa perdamaian di Ukraina berakhir.

Namun, Kremlin menegaskan pertemuan dapat terjadi dengan sebuah syarat. Itu adalah penandatanganan dokumen kesepakatan yang siap ditandatangani oleh kedua pemimpin.

Dalam sebuah pernyataan pers, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan hal ini merupakan keinginan dari Moskow. Ia menyebut bahwa kesepakatan belum disetujui sehingga belum ada pembaruan terbaru terkait peperangan Rusia dan Ukraina.

“Pada prinsipnya, Presiden (Putin) tidak pernah menolak pertemuan semacam itu (dengan Presiden Zelensky), tetapi kondisi tertentu harus disiapkan untuk itu, yaitu, teks dokumen (perjanjian) (untuk ditandatangani),” kata Peskov kepada wartawan seperti ditulis Berita International, Kamis kemarin.

 

Pekan lalu, Rusia mengatakan proposal perdamaian yang diusulkan oleh Presiden Zelensky tidak dapat diterima. Hal ini membuat perundingan damai antara kedua pihak berjalan lambat.

Rusia-Ukraina Damai? Putin Mau Bertemu Zelensky

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov mengatakan proposal yang terbaru ini ditawarkan Kyiv jauh dari poin yang disepakati sebelumnya dalam beberapa pertemuan antara delegasi kedua negara.

“Ketidak mampuan untuk menyetujui seperti itu sekali lagi menyoroti niat sebenarnya Kyiv, posisinya menarik keluar dan bahkan merusak pembicaraan dengan menjauh dari kesepahaman yang dicapai,” kata Lavrov seperti dikutip media lokal.

Kremlin juga menuduh campur tangan negara-negara Barat pimpinan Amerika Serikat (AS) telah menghambat proses kemajuan ini. Salah satu hal yang dianggap menghambat perdamaian bagi Rusia adalah soal tuduhan pembantaian warga sipil di kota Bucha, Ukraina.

Kyiv dan Barat mengatakan ada bukti. Termasuk gambar dan kesaksian saksi yang dikumpulkan.

Rusia mengirim puluhan ribu tentara ke Ukraina pada 24 Februari dalam apa yang disebutnya “operasi khusus”. Ini untuk menurunkan kemampuan militer tetangga selatannya serta membasmi orang-orang yang disebutnya nasionalis berbahaya layaknya Nazi.

Hingga saat ini, Moskow telah memutuskan untuk memfokuskan serangan di wilayah Timur Negeri Jirannya itu tepatnya di wilayah Donetsk dan Luhansk. Kedua wilayah itu diketahui merupakan wilayah yang diklaim Rusia sebagai berdiri sendiri dan tidak berada dalam kedaulatan Kyiv.