Pemudik Diminta Download Aplikasi PeduliLindungi dan Isi EHAC

Pemudik Diminta Download Aplikasi PeduliLindungi dan Isi EHAC

Pemudik diminta download Aplikasi PeduliLindungi dan mengisi EHAC (electronic – Health Alert Card) sebelum melakukan perjalanan. Hal itu diminta oleh Satgas COVID-19.

Masyarakat juga diminta mudik dengan aman dan sehat guna menjaga kondisi pandemi COVID-19 tetap terkendali.

Sehingga terjadi sejumlah perbedaan dalam peraturan pelaku perjalanan, yang membuat PeduliLindungi dibutuhkan oleh semua pemudik.

Salah satu perbedaan yang paling terlihat adalah masyarakat diarahkan untuk melakukan vaksinasi dosis ketiga terlebih dahulu, sebelum melaksanakan mudik, supaya imunitas dapat terbentuk secara optimal.

Hal itu dikatakan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito.

“Dengan demikian, segala bentuk persyaratan perjalanan dapat langsung terintegrasikan ke dalam PeduliLindungi melalui EHAC,” kata Wiku dalam Webinar Mudik Sehat, Mudik Aman 2022 yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Selain itu, terdapat aturan yang berbeda dalam surat edaran Satgas Nomor 16 tentang ketentuan bagi pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) yang aktif berlaku sejak tanggal 19 April 2022.

Disebutkan bagi pemudik yang sudah mendapatkan dosis ketiga, diperbolehkan untuk tidak menunjukkan tes COVID-19.

“Sebaliknya, bagi pemudik baru mendapatkan vaksin sebanyak dua kali, maka diwajibkan untuk menunjukkan hasil tes antigen 1×24 jam atau PCR 3×24 jam sebelum keberangkatan. Sedangkan bagi pemudik yang baru divaksin dosis pertama, diwajibkan menunjukkan hasil tes PCR 3×24 jam sebelum keberangkatan,” katanya.

Pemudik Diminta Download Aplikasi PeduliLindungi dan Isi EHAC

Wiku mengatakan bagi pemudik yang memiliki kondisi kesehatan atau komorbid tertentu dapat menyertakan hasil tes PCR 3×24 jam dan surat keterangan dari rumah sakit alasan tidak dapat divaksinasi.

Sementara anak usia 6-17 tahun dapat bebas dari tes COVID-19 asalkan sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap.

Sementara anak usia di bawah 6 tahun diperbolehkan untuk tidak melakukan tes dengan syarat para pendamping telah memenuhi syarat perjalanan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Baik bukti vaksinasi berupa sertifikat maupun hasil tes COVID-19 itu, nantinya akan tercatat dalam satu media di dalam PeduliLindungi. PeduliLindungi juga mampu mencatat persyaratan kesehatan hingga empat orang dalam satu keluarga,” katanya.

PeduliLindungi juga mempermudah pengawasan melalui warna yang dapat menerangkan kondisi kesehatan pengguna.

Misalnya, hijau bila sudah mendapatkan vaksin dosis lengkap atau booster dan hitam bila ternyata positif COVID-19.

Wiku berharap semua pihak mau menggunakan Aplikasi PeduliLindungi supaya pada saat berhenti melakukan pemeriksaan oleh Satgas di sejumlah titik mudik, tidak ada kendala yang terjadi dan pemudik dapat pulang ke kampung halaman dengan perasaan senang dan sehat.

Di samping itu, protokol kesehatan tetap harus dijalankan agar penularan COVID-19 tidak semakin meluas.

Wiku juga meminta pemudik untuk memperhatikan pola tidur dan konsumsi makan supaya tetap sehat baik di tempat tujuan ataupun saat pulang ke kota asal.

“Sebaiknya semua dipenuhi persyaratannya sehingga semua lancar. Jadi kondisi mental masyarakat yang sedang melakukan perjalanan, juga dalam kondisi gembira karena mau pulang kampung dan persyaratannya lengkap tentunya menghindari terjadi penumpukan di jalan,” ujar Wiku

Alasan Vaksin Pfizer-Moderna Lebih Efektif dari Sinovac-Sinopharm

Alasan Vaksin Pfizer-Moderna Lebih Efektif dari Sinovac-Sinopharm

Orang-orang yang menerima vaksin jenis Sinovac dan Sinopharm disebut lebih rentan jika dibanding mereka yang menerima vaksin jenis mRNA seperti Pfizer dan Moderna.

Ahli penyakit menular dari National Center for Infectious Diseases (NCID) dan Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura menyebut mereka yang menerima vaksin Sinovac 4,59 kali lebih mungkin mengalami Covid-19 parah ketimbang penerima Pfizer-BioNTech. Selain itu dikatakan juga 2,37 kali lebih mungkin terinfeksi daripada Pfizer-BioNTech.

Penyakit parah dalam kasus Covid-19 didefinisikan sebagai mereka yang membutuhkan bantuan oksigen di rumah sakit, masuk unit perawatan intensif (ICU) atau kematian.

Kemudian penelitian tersebut menunjukkan vaksin Moderna lebih efektif mencegah penyakit parah daripada vaksin Pfizer-BioNTech.

Dilansir dari berita seputar Asia, mereka yang menerima vaksin Moderna ditemukan 0,42 kali lebih mungkin mengembangkan Covid-19 parah daripada penerima Pfizer-BioNTech, dan mereka juga lebih kecil kemungkinannya terinfeksi.

Mengutip laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, efektivitas yang lebih tinggi dari vaksin Moderna kemungkinan karena kandungan mRNA yang lebih tinggi dan interval waktu yang lebih lama antara suntikan.

Vaksin Pfizer dan Moderna yang menggunakan teknologi mRNA disebut sebagai dua vaksin yang paling efektif yang pernah dikembangkan untuk melawan Covid-19. Kedua vaksin ini memiliki efektivitas 90 persen mencegah infeksi.

Alasan Vaksin Pfizer-Moderna Lebih Efektif dari Sinovac-Sinopharm

Meski kasus penularan terus meningkat dengan munculnya varian Delta dan Omicron, vaksin mRNA tetap cukup efektif mencegah kasus rawat inap dan kematian.

Sebuah studi terbaru dari para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di Rumah Sakit Penelitian Anak St. Louis dan St. Jude menyoroti kualitas respons imun yang dipicu vaksin mRNA.

Studi menunjukkan vaksin Pfizer secara kuat dan terus-menerus mengaktifkan sejenis sel kekebalan pembantu yang membantu sel penghasil antibodi menciptakan sejumlah besar antibodi yang semakin kuat dan juga mendorong pengembangan beberapa jenis memori kekebalan.

Sel tersebut dikenal sebagai sel pembantu folikel T. Sel-sel ini bertahan hingga enam bulan setelah vaksinasi dan membantu tubuh menghasilkan antibodi yang lebih baik.

Kemudian setelah sel-sel penolong ini menghilang, sel-sel penghasil antibodi dan sel-sel memori B membantu memberikan perlindungan terhadap penyakit parah dan kematian.

“Semakin lama sel pembantu T follicular memberikan bantuan, semakin baik antibodi dan semakin besar kemungkinan Anda memiliki respons memori yang baik,” kata Philip Mudd, penulis penelitian sekaligus asisten profesor pengobatan darurat di Universitas Washington, seperti dikutip dari Sekolah Medis St. Louis Universitas Washington.

“Dalam penelitian ini, kami menemukan respons sel pembantu folikel T ini terus berlanjut. Terlebih lagi, beberapa dari mereka merespons satu bagian dari protein lonjakan virus yang memiliki sedikit variasi di dalamnya.” katanya

Dengan variannya, terutama delta dan sekarang omicron, kami telah melihat beberapa peningkatan infeksi, tetapi vaksin telah bertahan dengan sangat baik dalam hal mencegah penyakit parah dan kematian. Saya pikir respons penolong folikel T yang kuat ini adalah bagian dari alasan mengapa vaksin mRNA terus dapat memberi proteksi,” tambahnya.

Vaksinasi Jangan Dadakan, Segera Vaksin COVID-19 agar Antibodi Optimal Saat Perjalanan Mudik

Vaksinasi Jangan Dadakan, Segera Vaksin COVID-19 agar Antibodi Optimal Saat Perjalanan Mudik

Satu setengah minggu jelang Lebaran, vaksinolog Dirga Rambe Sakti mengingatkan masyarakat yang belum melengkapi vaksinasi COVID-19 untuk segera melengkapi. Lalu, bagi yang belum mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 dosis ketiga untuk segera dilakukan bila sudah waktunya.

“Lebaran 10 hari lagi, saya rasa saat ini saat yang tepat bagi yang belum divaksinasi sehingga saat perjalanan mudik antibodi sudah optimal,” terang Dirga saat sesi Virtual Class bersama jurnalis pada Jumat 22 April 2022.

Dirga menjelaskan bahwa pada mereka yang disuntik booster maka antibodi akan tercipta sekitar 1-2 minggu sesudah suntikan. Maka dari itu, bila sudah memiliki jadwal vaksinasi jangan tunda-tunda lagi.

“Pilihlah waktu yang tepat untuk vaksinasi, lengkapi booster jika memang sudah waktunya.”

Hal senada pun disampaikan Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi. Pemerintah meminta masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster jauh-jauh hari sebelum mudik.

“Kita mengimbau kepada masyarakat kalau kita mau mudik nyaman dan aman hendaknya segera vaksin booster, jangan dipaksain vaksinasi booster pada saat mudik sehingga menghindari penumpukan keramaian di tempat vaksin,” kata Nadia dalam diskusi media beberapa waktu lalu.

Di kesempatan berbeda, Nadia mengatakan bahwa vaksinasi booster yang juga masuk dalam syarat perjalanan mudik Lebaran 2022 bukan untuk merepotkan melainkan melindungi masyarakat Indonesia.

Vaksinasi Jangan Dadakan, Segera Vaksin COVID-19 agar Antibodi Optimal Saat Perjalanan Mudik

“Yang harus kita pahami bersama bahwa booster ini bukan sesuatu yang merepotkan untuk para pemudik. Booster ini adalah salah satu upaya kita untuk meningkatkan proteksi. Kita tahu, jumlah orang yang akan melakukan mudik itu besar,” tutur Nadia saat acara Dialektika Demokrasi – Balada Booster dan Mudik Lebaran di Komplek Parlemen DPR RI, Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

“Dengan jumlah orang yang begitu besar, risiko penularan akan terjadi peningkatan. Karena risikonya meningkat, makanya kita tambahkan juga proteksi kekebalan pada tubuh agar lebih bisa meningkatkan kemampuan nanti menghadapi risiko-risiko peningkatan laju penularan,” lanjut Nadia.

Divaksinasi Saat Perjalanan Mudik, Efeknya?

Pemerintah mengatakan bakal menyediakan posko-posko vaksinasi di jalur mudik. Lalu, apa tidak apa-apa bila pemudik jalani vaksinasi saat dalam perjalanan pulang kampung?

Terkait ini Dirga mengatakan bahwa efek dari vaksinasi itu memang ada dan bervariasi pada setiap orang. Bisa nyeri di bekas suntikan, demam, sumeng, pusing, lapar, mengantuk, lemas.

“Dalam rangka mencetuskan antibodi pada tubuh maka vaksinasi mencetuskan reaksi itu. Dan, secara medis itu diharapkan terjadi ya walau tidak nyaman,” kata Dirga.

Mengingat potensi kejadian ikutan pasca imunsisasi (KIPI) itu ada dan tidak bisa diprediksi, maka sebaiknya hari-hari ini saja divaksin. “Sehingga saat dalam perjalanan mudik sekitar 10 hari lagi Lebaran kan, sudah punya antibodi yang optimal.”

“Usai vaksinasi mungkin bisa membuat badan tidak nyaman sementara waktu, apalagi yang nyupir ya kalau nyeri di lengan kan itu tidak nyaman. Jadi, lengkapi booster di saat tepat jika memang sudah waktunya.”

Waspada Gejala Covid Varian XE, Lebih Buruk dari Omicron

Waspada Gejala Covid Varian XE, Lebih Buruk dari Omicron?

Varian baru dari virus Corona kembali ditemukan. Kali ini varian tersebut diberi nama XE. Meski belum dipaparkan secara signifikan, gejala varian ini sudah dilaporkan dari beberapa pasien.

Seorang dokter penyakit dalam di Johns Hopkins Bayview Medical Center di Baltimore, Amerika Serikat bernama Erica Johnson menyebut gejala XE mirip dengan Omicron asli.

Gejala utama BA.1 (Omicron asli) dan BA.2 (Omicron siluman) mulai dari batuk, demam, kelelahan, dan kemungkinan hilangnya indera perasa atau penciuman.

Pasien yang menderita varian ini juga merasakan gejala pilek, masalah pencernaan, sakit kepala, dan ruam kulit.

Varian XE merupakan hasil rekombinan varian BA.1 dan BA.2. XE ditemukan pertama kali di Inggris pada awal tahun lalu, dan tercatat lebih dari 637 kasus sudah teridentifikasi.

“Tingkat pertumbuhan awal untuk XE tidak berbeda secara signifikan dari BA.2,” kata Badan keamanan Kesehatan Inggris atau UKHSA dikutip dari media Internasional, Kamis (21/4/2022).

Waspada Gejala Covid Varian XE, Lebih Buruk dari Omicron

“Berdasarkan data awal didapati bahwa kemampuan penularan omikron XE sekitar 10 persen lebih tinggi dari subvarian Omicron BA.2,” kata Wiku dalam konferensi pers melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa kemarin.

Sementara itu, Epidemiolog Griffith University, Dicky Budiman mengatakan, bila varian XE memiliki daya tular 10 persen dibandingkan BA.2, maka virus ini 40 persen lebih cepat daripada varian Delta terkait penyebarannya.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) melaporkan tingkat penularan varian XE mencapai 9,8% dibandingkan dengan BA.2. Ini berdasarkan data terbaru hingga 16 Maret 2022 lalu.

Kepala Transisi Penasihat Medis UKHSA, Susan Hopkins mengatakan belum bisa memastikan lebih jauh mengenai varian XE. Alasannya karena kemunculan varian belum terlalu banyak.

Hal tersebut berdampak pada belum cukup bukti untuk menarik kesimpulan soal penularan, tingkat keparahan, hingga efektivitas vaksin Covid-19 melawan varian XE.

Kemampuan deteksi genome virus dengan cepat juga dimiliki oleh beberapa negara seperti Afrika Selatan, China, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

“Rekombinan khusus ini, XE, telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang bervariasi dan kami belum dapat memastikan apakah ia memiliki keunggulan pertumbuhan,” kata Hopkins dikutip media Internasional.

Satgas Hapus Syarat Antigen Anak 6-17 Tahun yang Sudah Vaksin Covid 2 Kali

Satgas Hapus Syarat Antigen Anak 6-17 Tahun yang Sudah Vaksin Covid 2 Kali

Satgas Covid-19 resmi menghapus aturan tes antigen untuk anak-anak dan remaja usia 6 sampai 17 tahun yang ingin bepergian. Aturan ini berlaku bagi mereka yang sudah disuntik vaksin dosis kedua.

“Namun wajib melampirkan kartu atau sertifikat vaksin dosis kedua,” demikian bunyi aturan protoko poin F nomor 3 huruf c dalam aturan terbaru Satgas Covid-19 yang terbit pada 19 April 2022.

Ketentuan ini berlaku bagi anak-anak dan remaja yang berpergian dengan transportasi udara, laut, dan darat. Baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Aturan baru ini dituangkan dalam Addendum Surat Edaran (SE) Satgas Covid-19 Nomor 16 Tahun 2022 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri pada Masa Pandemi Covid-19. Aturan ini mulai berlaku 19 April.

Satgas Hapus Syarat Antigen Anak 6-17 Tahun yang Sudah Vaksin Covid 2 Kali

 

“Sampai dengan waktu yang ditentukan kemudian dan akan dievaluasi lebih lanjut sesuai kebutuhan,” demikian bunyi aturan tambahannya.

Aturan baru ini juga menjadi mengubah ketentuan lama di SE 16. Dalam aturan yang lama, anak-anak dan remaja usia 6-17 tahun diperlakukan sama seperti orang dewasa.

Mereka wajib menunjukkan hasil negatif rapid test antigen atau PCR kalau belum vaksin booster. Tapi kalau sudah vaksin booster, maka tak perlu antigen atau PCR.

Selain itu di dalam aturan yang lama, hanya anak-anak di bawah usia 6 tahun yang tidak diwajibkan menunjukkan hasil negatif rapid test antigen maupun PCR. Mereka juga dikecualikan dari ketentuan vaksinasi.

Akan tetapi, anak-anak di bawah usia 6 tahun wajib dengan pendamping yang telah memenuhi ketentuan vaksinasi Covid-19 dan pemeriksaan Covid-19. Aturan ini masih tetap berlaku sampai sekarang.

4 Obat Sakit Gigi Alami, Ampuh Redakan Nyeri di Gusi

4 Obat Sakit Gigi Alami, Ampuh Redakan Nyeri di Gusi

Obat sakit gigi alami efektif redakan nyeri di gusi dan mulut. Sakit gigi adalah masalah pada mulut dan gigi yang menyakitkan. Sakit gigi tidak hanya mengganggu saat makan, tetapi juga dapat memengaruhi suasana hati seseorang.

Sakit gigi dapat disebabkan oleh apa saja, mulai dari sisa makanan yang tersangkut di gusi, gigi yang patah, atau infeksi bakteri. Sakit gigi juga berasal dari iritasi gusi sementara.

Pulpa di dalam gigi adalah bagian lunak yang diisi dengan saraf, jaringan, dan pembuluh darah. Saraf pulpa ini adalah salah satu bagian yang paling sensitif di dalam tubuh. Ketika saraf ini teriritasi atau terinfeksi oleh bakteri, maka dapat menyebabkan rasa sakit yang parah. Untuk itu, redakan nyeri di mulut dengan obat sakit gigi alami.

4 Obat Sakit Gigi Alami yang Ampuh Redakan Nyeri

Sakit gigi bisa diatasi dengan pergi ke dokter gigi. Namun jika gejalanya belum parah, ada obat sakit gigi alami yang bisa jadi pilihan alternatif.

Menurut informasi kesehatan, empat obat sakit gigi alami ini bisa redakan nyeri di gusi dan mulut.

4 Obat Sakit Gigi Alami, Ampuh Redakan Nyeri di Gusi

1. Berkumur dengan air garam

Sebelum periksa ke dokter gigi, salah satu obat sakit gigi alami adalah berkumur dengan air garam. Caranya, campurkan setengah sendok teh garam dengan air hangat. Kumur sampai beberapa saat. Setelah itu, gunakan benang gigi secara lembut di sekitar gigi yang sakit untuk menghilangkan sisa makanan.

2. Kompres dingin

Jika mengalami bengkak karena sakit gigi, tempelkan kompres dingin di pipi selama 24-36 jam pertama. Ini dapat membantu meringankan rasa sakit, terutama jika gigi terkelupas atau copot. Pembengkakan juga menjadi gejala abses, nanah dan kotoran yang ada di dalam akar gigi. Hal ini dapat menyebabkan infeksi serius pada rahang dan gigi lainnya. Kondisi ini bisa menyebabkan demam dan gusi merah.

3. Es batu

Es batu dapat meredakan nyeri akibat sakit gigi. Jika merasakan sakit di wajah sebelah kanan, genggam es menggunakan tangan kanan, begitu pun sebaliknya. Gosokkan es batu menggunakan ibu jari dan jari telunjuk selama 7 menit, atau sampai area tersebut mati rasa.

Para peneliti percaya bahwa es mampu menghentikan sinyal rasa sakit ke otak.

4. Bawang putih

Bawang putih mengandung allicin, cairan berminyak yang bermanfaat jadi obat sakit gigi alami. Caranya mudah, kunyah sepotong bawang putih atau taruh potongan bawang putih di gigi. Tenang, cara ini aman untuk dicoba.

Moderna Perbarui Vaksin COVID-19 untuk Lawan Omicron, Hasilnya Memuaskan

Moderna Perbarui Vaksin COVID-19 untuk Lawan Omicron, Hasilnya Memuaskan

Moderna dikabarkan telah selesai melakukan uji klinis vaksin COVID-19 yang terbaru. Vaksin yang awalnya dirancang untuk melawan varian Beta dan varian orisinal ini disebut menunjukkan hasil memuaskan dalam menghadapi berbagai varian, termasuk Omicron.

Vaksin terbaru ini diklaim Moderna bisa memberikan efek perlindungan yang lebih baik dan tahan lama bila dibandingkan vaksin awal yang dibuat hanya berdasarkan strain virus COVID-19 orisinal.

Titer antibodi yang dihasilkan untuk varian Omicron bisa lebih tinggi pada 1 dan 6 bulan setelah vaksin diberikan sebagai booster.

Peneliti dari Moderna, Dr Jacqueline Miller, mengatakan sejauh ini belum ada rencana vaksin tersebut diproduksi secara massal. Pihaknya masih berusaha mengembangkan vaksin COVID-19 lain yang khusus untuk varian Omicron dan varian orisinal.

“Keyakinan kami adalah bahwa vaksin bivalen ini, berdasarkan data yang telah kami amati … menawarkan harapan terbaik untuk perlindungan yang lebih tahan lama,” kata Dr Miller seperti dikutip dari media lokal, Rabu (20/4/2022).

Moderna berharap vaksin COVID-19 terbaru yang lebih efektif dapat tersedia sebelum akhir tahun 2022.

Moderna mengklaim bahwa data awal pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa penyuntikan dosis vaksin sebesar 50 mikrogram, yang disarankan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk vaksin booster dapat meningkatkan antibodi hingga 37 kali lipat.

Moderna Perbarui Vaksin COVID-19 untuk Lawan Omicron, Hasilnya Memuaskan

Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi seluruh masyarakat, sebab sejak varian B.1.1.529 atau varian Omicron teridentifkasi di Afrika Selatan, varian baru virus corona ini dinilai sangat cepat menular.

Sementara itu, para peneliti juga menemukan bahwa dosis 100 mikrogram dari vaksin booster Moderna meningkatkan antibodi sebanyak 83 kali lipat.

Kendati demikian, Moderna masih terus mengembangkan vaksin dosis ketiga khusus untuk mencegah Covid varian Omicron. Jika nantinya disetujui, uji klinis awal akan dilakukan pada tahun 2022 mendatang.

Kemudian Moderna akan menguji antibodi yang diukur setelah hari ke-29 sejak pemberian vaksin dosis ketiga.

Sementara itu, Presiden Moderna, Dr Stephen Hoge mengatakan bahwa pihaknya saat ini tidak berencana untuk mendapatkan izin vaksin booster dengan dosis 100 mikrogram.

Akan tetapi, pemberian dosis vaksin Covid-19 booster tersebut dinilai masuk akal jika diberikan kepada kelompok rentan seperti petugas kesehatan.

Baik Hoge dan Burton menuturkan, keputusan pemberian vaksin booster diserahkan kepada keputusan pemerintah, apakah mereka menginginkan tingkat perlindungan maksimal dengan dosis yang lebih tinggi.

Sudah Booster Tapi Sertifikat Vaksin Belum Keluar Begini Ceknya

Sudah Booster Tapi Sertifikat Vaksin Belum Keluar? Begini Ceknya

Tahun ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperbolehkan masyarakat Indonesia untuk mudik dengan syarat sudah vaksin booster atau vaksin ketiga.

Bagi masyarakat yang baru mendapatkan vaksin pertama dan kedua juga diperbolehkan. Namun, dengan syarat harus tes antigen dan PCR.

Mengutip dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), sertifikat vaksin biasanya muncul 1×24 setelah petugas vaksinasi menginput data tersebut. Sertifikat ini juga akan munvul di laman resmi dan aplikasi PeduliLindungi.

Namun, bagaimana jika sertifikat vaksinasi belum muncul? Padahal sudah vaksin dan menunggu 1×24? Berikut beberapa cara dari laman resmi Kemenkes yang dapat dicoba.

Sudah Booster Tapi Sertifikat Vaksin Belum Keluar Begini Ceknya

Kunjungi laman PeduliLindungi

Cara pertama yang disarankan adalah dengan mengunjungi dan mengecek di laman resmi PeduliLindungi:

  • Kunjungi pedulilindungi periksa-sertifikat
  • Login dengan akun terdaftar (harap regristrasi dahulu jika belum punya akun)
  • Periksa sertifikat vaksinasi Covid-19 dengan memasukkan data yang diperlukan.
  • Sertifikat vaksin akan muncul dan dapat melanjutkan klaim di aplikasi PeduliLindungi.

Cek langsung ke aplikasi PeduliLindungi

Cara kedua adalah untuk langsung mengecek sertifikat vaksin langsung di aplikasi PeduliLindungi:

  • Pastikan aplikasi PeduliLindungi sudah versi terbaru
  • Buka aplikasi PeduliLindungi
  • Login atau regristrasi jika belum memiliki akun
  • Pilih menu “Sertifikat Vaksin”
  • Klik “Klaim Sertifikat”
  • Masukkan data yang diperlukan
  • Klik tombol “Klaim”

Hubungi Chatbot Kemenkes

Jika kedua cara tersebut tidak bisa, disarankan untuk menghubungi chatbot resmi Kemenkes di nomor 0811 1050 0567. Berikut langkah rincinya:

  • Pilih menu “Sertifikat Vaksin”
  • Masukkan nomor telepon yang terdaftar pada akun PeduliLindungi
  • Silahkan input 6 digital kode OTP yang dikirim pada chat room atau SMS
  • Pilih “Download Sertifikat” dan masukkan nama dan NIK
  • Pilih sertifikat yang ingin diunduh/download
  • Sertifikat akan muncul dan siap diunduh
  • Jika ketiga cara di atas masih gagal, Kemenkes menyarankan untuk menghubungi WhatsApp resmi mereka di nomor yang sama dengan chatbot dan pilih menu “Data Vaksinasi”.

Cara lainnya adalah dengan menghubungi Call Center 119 ext. 9 atau kirim email ke pedulilindungi untuk melaporkan kendala sertifikat vaksin yang belum muncul.

Kemenkes Warning Covid Varian XD, XE & XF, Sudah Ada di RI

Kemenkes Warning Covid Varian XD, XE & XF, Sudah Ada di RI?

Covid 19 varian “X” yaitu XE, XD, dan XF tengah menjadi perhatian dunia setelah terdeteksi di beberapa negara. Ketiganya merupakan subvarian Omicron dan diduga bersifat lebih mudah menular dari Omicron aslinya.

Adapun Covid-19 XE, XD, dan XF dijelaskan tidak memiliki perbedaan gejala yang khusus. Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid 19 Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi karena ketiganya masih sejenis dengan varian Omicron, hanya saja sudah memiliki campuran materi genetik dari varian lain.

Kemunculan subvarian XE, XD, dan XF diduga dari seseorang yang terinfeksi dengan dua varian Omicron-Delta atau dua subvarian Omicron sekaligus dalam waktu bersamaan.

Kemenkes Warning Covid Varian XD, XE & XF, Sudah Ada di RI

“Jadi sebenarnya subvarian ini masih merupakan satu jenis yang sama dengan varian Omicron. Tapi kemudian kemungkinan seseorang terinfeksi dengan dua jenis varian Delta dan Omicron yang membentuk subvarian ini,” ujar Nadia belum lama ini.

Nadia menjelaskan sampai saat ini ketiga subvarian X tersebut masih belum terdeteksi di Indonesia. Adapun saat ini pemerintah masih terus mewaspadai dan melakukan pemantauan lewat tes whole genome sequencing (WGS).

Hal senada juga diungkapkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dia mengatakan, hingga saat ini varian tersebut belum terdeteksi di Indonesia.

Sebagai informasi, XE merupakan rekombinan dari sub varian omicron BA.1 dan BA.2. Keduanya diketahui telah menyebar secara global dan menyebabkan lonjakan kasus di hampir semua negara di dunia.

Varian XE sudah ditemukan di Inggris sejak 19 Januari 2022. Dilaporkan jika negara itu telah mendeteksi 637 kasus terkait varian baru tersebut. Sementara untuk di luar Inggris, kasus terkait XE juga telah ditemukan termasuk Amerika Serikat (AS).

Efek Samping Vaksin Booster Moderna, Pfizer, Sinovac & Astra

Efek Samping Vaksin Booster: Moderna, Pfizer, Sinovac & Astra

Pemerintah masih terus menggencarkan program vaksinasi, baik untuk dosis primer (dosis 1 dan 2) maupun booster alias dosis ketiga. Vaksin booster bahkan rencananya akan dijadikan sebagai syarat bagi masyarakat yang ingin mudik Lebaran tahun ini.

Adapun 5 jenis vaksin yang telah menerima izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) sebagai vaksin booster, yakni Sinovac atau Coronavac PT Bio Farma, Comirnaty oleh Pfizer, AstraZeneca atau Vaxzevria dan Kconecavac, Moderna, dan Zifivax.

Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) resmi memberikan persetujuan kepada lima vaksin Covid-19 tersebut sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog (vaksin booster sama dengan vaksin primer) dan heterolog (vaksin booster beda dengan vaksin primer).

Kepala Badan POM, Penny K. Lukito menjelaskan bahwa sejak bulan November 2021, pihaknya sudah melakukan kajian keamanan dan khasiat dari beberapa vaksin Covid-19 yang memiliki potensi menjadi vaksin booster.

Kajian keamanan dan khasiat tersebut dilakukan untuk vaksin yang telah memperoleh EUA sebagai vaksin primer. Kemudian vaksin dievaluasi sebagai dosis booster atau dosis lanjutan berdasarkan data hasil uji klinik terbaru yang mendukung.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai lima vaksin yang sudah menerima persetujuan BPOM sebagai vaksin booster beserta efek sampingnya.

Efek Samping Vaksin Booster Moderna, Pfizer, Sinovac & Astra

Vaksin Sinovac dari Bio Farma

Vaksin Coronavac atau Sinovac dari Bio Farma adalah vaksin pertama yang diizinkan sebagai vaksin booster atau vaksin dosis lanjutan homolog yang diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Coronavac atau Sinovac untuk usia 18 tahun ke atas.

BPOM mengatakan, Sinovac sebagai vaksin booster dapat meningkatkan titer antibodi netralisasi hingga 21 – 35 kali setelah 28 hari pemberian booster atau dosis lanjutan.

Adapun efek samping vaksin booster dari Bio Farma adalah:

  • Menimbulkan reaksi lokal atau nyeri pada lokasi suntikan
  • Tingkat keparahan efek sampingnya adalah grade satu dan dua

Vaksin Pfizer

Vaksin Comirnaty dari Pfizer sebagai vaksin booster atau dosis lanjutan homolog dapat diberikan sebanyak 1 dosis minimal setelah 6 bulan dari vaksin primer dosis lengkap Pfizer untuk usia 18 tahun ke atas.

Vaksin ini memiliki tingkatan nilai titer antibodi netralisir setelah satu bulan pemberian booster sebesar 3,29 kali. Adapun efek samping yang mungkin timbul setelah suntikan dosis booster vaksin ini adalah:

  • Nyeri pada lokasi suntikan
  • Nyeri otot
  • Nyeri sendi
  • Demam

Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca (Vaxzevria dan Kconecavac) merupakan vaksin yang sudah diizinkan menjadi vaksin booster homolog dan diberikan sebanyak 1 dosis setelah 6 bulan dari vaksinasi primer dosis lengkap AstraZeneca untuk usia 18 tahun ke atas.

Vaksin AstraZeneca sebagai vaksin booster memiliki peningkatan nilai rata-rata titer antibodi IgG dari 1792 (sebelum suntik dosis vaksin booster) menjadi 3746. Adapun efek samping yang mungkin ditimbulkan dari vaksin booster AstraZeneca adalah:

  • Nyeri di lokasi suntikan.
  • Kemerahan.
  • Gatal.
  • Terdapat pembengkakan.
  • Sakit kepala.
  • Meriang atau demam.
  • Mual.
  • Rasa lelah.

Vaksin Moderna

Vaksin Moderna sebagai vaksin booster homolog dan heterolog dengan vaksin primer AstraZeneca, Pfizer atau Jenssen dapat diberikan dengan dosis setengah (half dose) untuk usia 18 tahun ke atas yang diberikan setelah 6 bulan dari vaksinasi primer.

Vaksin Moderna sebagai vaksin booster memberikan kenaikan respon imun antibodi netralisasi sebesar 12,99 kali sesudah pemberian vaksin booster homolog. Adapun efek samping vaksin booster Moderna yang bisa terjadi adalah:

  • Rasa lemas.
  • Sakit kepala.
  • Meriang atau demam.
  • Mual.

Vaksin Zifivax

Vaksin Zifivax diizinkan sebagai vaksin booster heterolog dengan dosis penuh untuk yang berusia 18 tahun ke atas dan diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah mendapatkan vaksin primer dosis lengkap dari Sinovac atau Sinopharm.

Vaksin Zifivax memiliki tingkatan titer antibodi netralisir lebih dari 30 kali bagi yang telah mendapatkan dosis primer Sinovac atau Sinopharm. Efek samping yang bisa timbul setelah pemberian vaksin booster Zifivax adalah:

  • Nyeri pada lokasi suntikan
  • Nyeri otot atau myalgia
  • Sakit kepala
  • Merasa kelelahan
  • Demam
  • Mual
  • Diare (tingkat keparahan grade satu dan dua)
  • Rasa mual

Hasil evaluasi BPOM terhadap aspek keamanan lima vaksin booster atau dosis ketiga di atas menunjukkan bahwa frekuensi, jenis dan keparahan dari Kejadian Tidak Diinginkan atau KTD yang dilaporkan setelah pemberian dosis booster pada umumnya bersifat ringan dan sedang.